Aku
Anak Pinggriran
Kehidupan adalah makna untuk ku
Makna dalam hidup adalah perjalananku
Biar tubuhku penuh lumpur
Aku’kan tetap tersenyum merayu dunia
masuk dalam cahaya
masuk dalam cahaya
Kesepian buatku sudah biasa
Aku kan anak pinggiran bisa apa?
Biar tubuhku kaku tak bergerak
Ku’kan tetap mengejar mencari cahaya
Kepedihan sudah menjadi makanan
harianku
Aku’kan anak jalan bisa apa?
Biar tubuhku penuh darah
Ku’kan setia berlari, mencari mimpi
dan cahaya abadi........
Menulis jejak
Dalam malam, aku sendiri membayang
Mencari jejak diri yang terus
melayang
Bertemankan rembulan ku alirkan
tangan
Menulis kisah dalam kenangan
Mencari bahasa merangkai kata
Yang indah ku alirkan dari bibir saja
Dengan tenang aku mencari, merangkai
menulis
Sebuah jejak menjadi sajak
Sajak
Kata, bahasa
Ku alirkan
Cerita, langkah
Ku tuliskan
Sajak
Ku
rangkai,ku tulis
Bernada, berima,bermakna
Cerita
Sajak
kata,bahasa,satu........
Sendiri
Terbaring dalam kesunyian
Terhanyut dalam kesepian
Dalam rumah aku sendiri
Malam apalagi
Aku di cekam ngeri
Dalam kesunyian kamar
Terdengar suara-suara malam
Di antara pohon-pohon itu
Terkenyut aku berdiri
Siapa di luar itu
Keras , ganas dia bersuara
Gug..gug.....
Sebuah Rumah
Dari jarak jauh aku berjalan
mendekati
Pergi dalam ketakutan
Aku tertekan
Sebuah rumah berpapan pepohonan
Berdiri memandang lurus tak bergerak
Dari jauh ku pandang,dia datang
Terkejut aku berdiri
Si manis pun lari......
Bersama kawan
Hujan waktu itu , berlari menentang
Gelombang menyerang, gerimis
menyebrang
Kapal berlayar,arus menyambar
Di semenanjung kami berlabuh,dan berpacuh
Jalan berbatu bertaburan duri
Garis-garis tajam kejam menghampiri
Mata kami terbuka sekejap tertutup
lagi
Harapan di mata, Cerita mulai
bertatah
Dengan dia cita,cinta, Bersama
Saat hari itu tiba
Lemah sudah kita,terasa badan tak
bernyawa
Kaku seluruh, musnah seketika
Hancur binasa tak tersisa
Ketika DIA berkata
Runtuh,rubuh
putus
Hancur
Luluh lantak
Retak
Kita semua ,
Kaku
Musnah
Mati.......
Anak pinggaran
Berjejeran kita dalam tempat
Menyisihakan tangan kita merapat
Memandang sebuah kenangan dunia
Yang sempat mendekat
Dalam pasar,
berteriak,bercanda,menangis,tertawa
berteriak,bercanda,menangis,tertawa
Kita bersama
Menulis kisah,mencari cinta
Kertas hitam
Anak pinggiran
Aku berada mencari harapan
Kesabaran
Aku’kan tahan segala omongan,segala
cacian
Yang mengikatku setiap melangkah
Aku bingung kemana arah buatku bicara
Satu kata keluar,seribu kata di
tampar
Hidup ini sangat bising ku dengarkan
Seru-menderu terus saja terpancar
Tak ada lagi untukku melangkah
Segala buntuh,semua runtuh
Tertutup rapat terkunci pekat
Senja di pulau
kecil
Saat ini memang aku sedang sedih,
memangdang mentari yang mulai mati
Dari ujung pantai desiran ombak laun
lambat berlari
Di tengah laut biru menghijau aku berpacuh
Mendayung perahu , cahaya melaju
Masih saja mendayung, mendekati sayup
di pantai ada si buyung
Terus dekat rapat,senyum itu kupandang
mendekat
Saat ini memang aku sedang sedih,memadang
mentari yang sudah mati
Di Ujung jalan sana aku berlari,mengejar
suara Ilahi
Bersenandung kata-kata suci,aku
alirkan
Allahu Akbar.........
Malam
Malam mulai kelam, Sendiri lagi
Sunyi senyap mencekik, Datang lagi
Suara-suara malam yang ngeri,mulai
lagi
Malam terus kelam,dingin lagi
Hujan turun,basah lagi
Rembulan tak bersinar, sepi lagi
Lampu mati, takut lagi
Aku sendiri , di malam yang sepi
Sampai datang siang menanti........
Cintaku
Di gubuk ini aku sendiri menanti
Cinta sejati sekarang telah pergi
Jeritan di hati merana sendiri
Burung merpati menghibur hati
Bulan tersenyum,di malam mendayu
Perasaan rinduku,semakin melaju
Bercampur pilu, aku merayu
Cinta kembalilah ke nafasku
Dalam malam aku berkata
Cinta kenapa kau begitu cepat
bertahta
Sebelum Dia kupeluk dan ku manja
PerjuanganMU
Hembusan napasMU begitu sejuk Kau
berikan
Menyejukanku dalam kehausan
Membelaiku dengan jemari tulusMu Kau
pancarkan
Kau laksana jantung dan darahku
Yang merapikan nadi-nadi putus dalam
sendiku
Kau duniaku, tempat berteduhku
Melengkapi jalan dan langkahku
Gelap keruh bumi ini merapuh tubuhku
tanpa perjuanganMU
Kau cahaya sandaran jiwaku,menerangi
gelapnya hidupku
Kadang sulit bagimu, tapi sungguh tak
terlihat lesu kesahMu
Hanya terlihat kasih sayang di mataMu
Buat aku anakMu......
Mulai
buta
Mulai buta
orang orang disana
Tak melihat
daun yang hijau di jalanan mengering
Membusuk tak
ada tempat menginang
Di jalan tak
peduli diguyur mentari , hujan
Buka mata dan
lihatlah daun-daun yang tak berembun
Di pepohonan
yang rapuh mau patah dimakan rayap yang tak punya mata
Habis sudah
hidup mereka, tak punya tempat berlindung
Hanya bisa menangis
, Bagai gerimis
di tengah hari
Terus berdesir membasahi jalan-jalan
putih
Tiada lagi
orang peduli
Bukannya
dunia membenci , tapi orang-orang itu tak peduli
Buka matamu wahai oarang- orang
disana
lihat kami anak jalanan........