Kamis, 24 April 2014

PUISI HIDUP



Aku
 Anak Pinggriran

Kehidupan adalah makna untuk ku
Makna dalam hidup adalah perjalananku
Biar tubuhku penuh lumpur
Aku’kan tetap tersenyum merayu dunia
masuk dalam cahaya

Kesepian buatku sudah biasa
Aku kan anak pinggiran bisa apa?
Biar tubuhku kaku tak bergerak
Ku’kan tetap mengejar mencari cahaya

Kepedihan sudah menjadi makanan harianku
Aku’kan anak jalan bisa apa?
Biar tubuhku penuh darah
Ku’kan setia berlari, mencari mimpi dan cahaya abadi........









Menulis jejak
Dalam malam, aku sendiri membayang
Mencari jejak diri yang terus melayang
Bertemankan rembulan ku alirkan tangan
Menulis kisah dalam kenangan

Mencari bahasa merangkai kata
Yang indah ku alirkan dari bibir saja
Dengan tenang aku mencari, merangkai menulis
Sebuah jejak menjadi sajak
















Sajak

Kata, bahasa
Ku alirkan
Cerita, langkah
Ku tuliskan

Sajak
Ku  rangkai,ku tulis
Bernada, berima,bermakna
Cerita

Sajak
kata,bahasa,satu........















Sendiri

Terbaring dalam kesunyian
Terhanyut dalam kesepian
Dalam rumah aku sendiri
Malam apalagi

Aku di cekam ngeri
Dalam kesunyian kamar
Terdengar suara-suara malam
Di antara pohon-pohon itu

Terkenyut aku berdiri
Siapa di luar itu
Keras , ganas dia bersuara
Gug..gug.....






Sebuah Rumah

Dari jarak jauh aku berjalan
mendekati
Pergi dalam ketakutan
Aku tertekan

Sebuah rumah berpapan pepohonan
 Berdiri memandang lurus tak bergerak
Dari jauh ku pandang,dia datang

Terkejut aku berdiri
Si manis pun lari......














Bersama kawan
Hujan waktu itu , berlari menentang
Gelombang menyerang, gerimis menyebrang
Kapal berlayar,arus menyambar
Di semenanjung kami berlabuh,dan berpacuh

Jalan berbatu bertaburan duri
Garis-garis tajam kejam menghampiri
Mata kami terbuka sekejap tertutup lagi

Harapan di mata, Cerita mulai bertatah
Dengan dia cita,cinta, Bersama













Saat  hari itu tiba

Lemah sudah kita,terasa badan tak bernyawa
Kaku seluruh, musnah seketika
Hancur binasa tak tersisa

Ketika DIA berkata
Runtuh,rubuh
putus
Hancur
Luluh lantak
Retak

Kita semua ,
Kaku
Musnah
Mati.......









Anak pinggaran

Berjejeran kita dalam tempat
Menyisihakan tangan kita merapat
Memandang sebuah kenangan dunia
Yang sempat mendekat
Dalam pasar,
berteriak,bercanda,menangis,tertawa
Kita bersama
Menulis kisah,mencari cinta

Kertas hitam
Anak pinggiran
Aku berada mencari harapan











Kesabaran

Aku’kan tahan segala omongan,segala cacian
Yang mengikatku setiap melangkah
Aku bingung kemana arah buatku bicara
Satu kata keluar,seribu kata di tampar
Hidup ini sangat bising ku dengarkan
Seru-menderu terus saja terpancar

Tak ada lagi untukku melangkah
Segala buntuh,semua runtuh
Tertutup rapat terkunci pekat














Senja di pulau kecil

Saat ini memang aku sedang sedih, memangdang mentari yang mulai mati
Dari ujung pantai desiran ombak laun lambat berlari
Di tengah laut biru menghijau aku berpacuh
Mendayung perahu , cahaya melaju

Masih saja mendayung, mendekati sayup di pantai ada si buyung
Terus dekat rapat,senyum itu kupandang mendekat

Saat ini memang aku sedang sedih,memadang mentari yang sudah mati
Di Ujung jalan sana aku berlari,mengejar suara Ilahi
Bersenandung kata-kata suci,aku alirkan
Allahu Akbar.........












Malam

Malam mulai kelam, Sendiri lagi
Sunyi senyap mencekik, Datang lagi
Suara-suara malam yang ngeri,mulai lagi

Malam terus kelam,dingin lagi
Hujan turun,basah lagi
Rembulan tak bersinar, sepi lagi
Lampu mati, takut lagi

Aku sendiri , di malam yang sepi
Sampai datang siang menanti........













Cintaku

Di gubuk ini aku sendiri menanti
Cinta sejati sekarang telah pergi
Jeritan di hati merana sendiri
Burung merpati menghibur hati

Bulan tersenyum,di malam mendayu
Perasaan rinduku,semakin melaju
Bercampur pilu, aku merayu
Cinta kembalilah ke nafasku

Dalam malam aku berkata
Cinta kenapa kau begitu cepat bertahta
Sebelum Dia kupeluk dan ku manja











PerjuanganMU

Hembusan napasMU begitu sejuk Kau berikan
Menyejukanku dalam kehausan
Membelaiku dengan jemari tulusMu Kau pancarkan

Kau laksana jantung dan darahku
Yang merapikan nadi-nadi putus dalam sendiku
Kau duniaku, tempat berteduhku
Melengkapi jalan dan langkahku

Gelap keruh bumi ini merapuh tubuhku tanpa perjuanganMU
Kau cahaya sandaran jiwaku,menerangi gelapnya hidupku
Kadang sulit bagimu, tapi sungguh tak terlihat lesu kesahMu
Hanya terlihat kasih sayang di mataMu
Buat aku anakMu......










Mulai buta

Mulai buta orang orang disana
Tak melihat daun yang hijau di jalanan mengering
Membusuk tak ada tempat menginang
Di jalan tak peduli diguyur mentari , hujan
Buka mata dan lihatlah daun-daun yang tak berembun
Di pepohonan yang rapuh mau patah dimakan rayap yang tak punya mata
Habis sudah hidup mereka, tak punya tempat berlindung
Hanya bisa menangis , Bagai gerimis di tengah hari
Terus berdesir membasahi jalan-jalan putih
Tiada lagi orang peduli
Bukannya dunia membenci , tapi orang-orang itu tak peduli

Buka matamu wahai oarang- orang disana

 lihat kami anak jalanan........

1 komentar: